Kamis, 03 Februari 2011

Sekilas tentang Cacar Air

Bagikan
(Varisela, Chickenpox) adalah suatu infeksi virus menular
yang menyebabkan ruam kulit berupa sekumpulan bintik-bintik kecil
yang datar maupun menonjol, lepuhan berisi cairan serta keropeng,
yang menimbulkan rasa gatal.

PENYEBAB
Penyebabnya adalah virus varicella-zoster.
Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui
benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit.
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari timbulnya gejala
sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Karena itu, untuk
mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan).

Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki
kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Tetapi virusnya
bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu kadang menjadi aktif
kembali dan menyebabkan herpes zoster.

GEJALA
Gejalanya mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi.
Pada anak-anak yang berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa
sakit kepala, demam sedang dan rasa tidak enak badan. Gejala tersebut
biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih muda, gejala pada
dewasa biasanya lebih berat.

24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-bintik merah
datar (makula). Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk
lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan
mengering. Proses ini memakan waktu selama 6-8 jam. Selanjutnya akan
terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru.
Pada hari kelima, biasanya sudah tidak terbentuk lagi lepuhan yang
baru, seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam dan menghilang
dalam waktu kurang dari 20 hari.

Papula di wajah, lengan dan tungkai relatif lebih sedikit; biasanya
banyak ditemukan pada batang tubuh bagian atas (dada, punggung,
bahu). Bintik-bintik sering ditemukan di kulit kepala.
Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang
seringkali menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga bisa ditemukan di
kelopak mata, saluran pernafasan bagian atas, rektum dan vagina.
Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas kadang menyebabkan
gangguan pernafasan.
Bisa terjadi pembengkaan kelenjar getah bening di leher bagian
samping.
Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun
ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata.
Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan
oleh stafilokokus.

KOMPLIKASI
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada
orang dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini
bisa berat atau bahkan berakibat fatal.
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah:
- Pneumonia karena virus
- Peradangan jantung
- Peradangan sendi
- Peradangan hati
- Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa)
- Ensefalitis (infeksi otak).

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan ruam kulit yang khas (makula,
papula, vesikel dan keropeng).

PENGOBATAN
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit
dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin
atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol

Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya:
- kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
- menjaga kebersihan tangan
- kuku dipotong pendek
- pakaian tetap kering dan bersih.

Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin).
Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir.

Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan
aspirin.
Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2
tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada remaja
penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi beratnya penyakit
jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang
pertama.
Obat anti-virus lainnya adalah vidarabin.
PENCEGAHAN
Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin.
Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan
memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya penderita
gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan immunoglobulin zoster atau
immunoglobulin varicella-zoster.

Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18
bulan.

TAK SEMUA PENYAKIT PERLU ANTIBIOTIK

Bagikan Selama ini antibiotik dipercaya sebagai obat manjur yang dapat mengenyahkan berbagai penyakit. Padahal tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik! Dunia kedokteran modern berkembang pesat dengan ditemukannya antibiotik pada tahun 1928 oleh Alexander Fleming. Perkembangannya sungguh fantastis, hingga sekian puluh tahun kemudian masyarakat begitu mudah mendapatkan antibiotik di pasaran. Kala terserang flu atau pusing, orang dengan mudah mengobati dirinya sendiri dengan membeli antibiotik di apotek. Sebagian beranggapan, kalau hanya sakit ringan tidak perlu ke dokter. Toh paling-paling dokter akan memberikan resep yang sama dengan antibiotik
yang bisa dibeli sendiri di apotek. Padahal penggunaan antibiotik yang sembarangan dapat berakibat fatal. "Apalagi tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik," tandas DR. Dr. Rianto Setiabudy, dari Bagian Farmakologi FKUI.

HARUS SESUAI INDIKASI

Pada prinsipnya antibiotik adalah obat yang digunakan untuk membunuh kuman penyakit dalam tubuh manusia dan menyembuhkannya dari infeksi. Itu pun hanya infeksi kuman yang harus dicermati lebih dulu, sehingga antibiotik yang diberikan bisa cocok dengan infeksi yang diderita. "Penggunaan antibiotik yang benar harus sesuai dengan indikasinya. Contohnya ada infeksi kulit seperti bisul atau abses," kata Rianto.
Akan halnya infeksi virus, maka pada kasus ini tidak dibutuhkan antibiotik. Jadi pemakaian antibiotik untuk mengobati penyakit yang disebabkan virus seperti influenza tidak disarankan. "Influenza sebetulnya tidak dapat diobati dengan antibiotik," ungkap Rianto. Apalagi kalau ada dokter yang memberikan dua jenis antibiotik untuk sakit flu. "Ini sangat disesalkan." Antibiotik yang diberikan secara tidak tepat, alih-alih menyembuhkan penyakit, yang ada justru menimbulkan banyak kerugian, di antaranya:
Menimbulkan Kekebalan
Dalam tubuh manusia terdapat kuman-kuman "normal" yang memang dibutuhkan tubuh dan tidak memunculkan penyakit. Dengan konsumsi antibiotik berulang, kuman "normal" ini akan menjadi kebal. Lalu kekebalannya bisa ditularkan pada kuman lain, termasuk kuman yang menyebabkan penyakit. Jadi antibiotik yang dikonsumsi berulang-ulang dapat menimbulkan kekebalan, apalagi bila penggunaan itu sebenarnya tidak perlu. Dikhawatirkan, bila terjadi infeksi yang betul-betul membutuhkan antibiotik, obat tersebut sudah tidak lagi efektif karena tubuh sudah resisten.
Memunculkan Reaksi Alergi
Bila penggunaannya tidak tepat, antibiotik bisa menyebabkan alergi, seperti gatal, mual, pusing, dan sebagainya. Seringkali dokter menanyakan apakah pasien memiliki alergi obat tertentu atau tidak. "Dokter yang menanyakan hal ini pada pasiennya harus dipuji karena dia termasuk dokter yang teliti," komentar Rianto. Sayangnya, yang sering terjadi pasien tidak tahu apakah dirinya alergi terhadap obat tertentu atau tidak. Lalu bagaimana sebagai pasien kita harus menjawabnya? Seandainya sama sekali tidak tahu pasti apakah punya riwayat alergi obat atau tidak, "Sebaiknya ya jawab apa adanya. Dokter pasti akan membantu meresepkan obat
yang aman. Tapi kalau tahu, misalnya alergi penisilin atau amoksilin, tentu dokter tidak akan meresepkannya." Walaupun belum ada angka pasti berapa banyak orang yang alergi terhadap antibiotik di Indonesia, yang paling banyak dijumpai adalah alergi penisilin. Alergi terhadap obat biasanya ditandai dengan gejala gatal-gatal, sesak napas ataupun reaksi lainnya.
Harga Obat Jadi Mahal
Penambahan antibiotik yang tidak perlu akan membuat harga obat yang harus ditebus pasien jadi makin mahal. Dalam hal ini pasien punya hak untuk memberikan pandangannya kepada dokter. Misalnya kalau untuk sakit flu dokter meresepkan antibiotik, tanyakan saja apakah itu memang perlu. Lebih baik lagi, berobat saja ke dokter yang memang selektif dalam meresepkan antibiotik.

KEMUNGKINAN EFEK SAMPING

Efek samping antibiotik tidak mesti muncul dari penggunaan jangka panjang
karena penggunaan jangka pendek pun bisa saja menimbulkan kerugian. Misalnya, pada orang-orang tertentu, antibiotik yang masuk ke tubuh dapat memunculkan reaksi berlebihan. Akibat yang paling parah di antaranya Sindrom Steven Johnson, yang bisa berujung kematian. Adapun jangka waktu penggunaan antibiotik sangat bervariasi tergantung pada berat ringannya penyakit. Untuk infeksi kuman yang ringan, penggunaan selama lima hari sudah cukup. Sedangkan untuk infeksi kuman yang sifatnya khusus, seperti TBC, waktu yang dibutuhkan jelas lebih lama, minimal 6 bulan.

Namun, bukan berarti obat-obat tersebut tidak boleh dikonsumsi, karena manfaatnya justru besar bila digunakan dengan indikasi yang benar. Sudah banyak bukti bahwa antibiotik dapat menyelamatkan nyawa manusia. Yang perlu kita lakukan adalah bersikap hati-hati, karena penggunaannya yang salah dapat berakibat fatal.

Gentamisin Kerusakan Ginjal

Kloramfenikol Kerusakan sumsum tulang sehingga berpengaruh pada produksi sel darah merah dan sel darah putih, bisa mengakibatkan kematian. Penisilin Syok anafilaksis (turunnya tekanan darah secara drastis dan tiba-tiba, bisa menyebabkan kematian) atau reaksi pada kulit Sulfa Reaksi Hipersensitivitas

DOSIS DULU DAN SEKARANG

Selama pengobatan, biasanya antibiotik diminum 2-3 kali sehari. Akan tetapi seiring dengan kemajuan dunia kedokteran, antibiotik jenis tertentu bisa dikonsumsi hanya satu kali sehari. Soal efektivitasnya, menurut Rianto sama saja. Kalau antibiotik yang diberikan 3 kali sehari punya masa kerja kurang lebih 8 jam, maka yang dosisnya 1 kali sehari pun dibuat dengan masa kerja yang lebih lama.

Ada keuntungan lebih yang didapat dengan mengonsumsi obat sekali sehari, yakni terhindar dari kemungkinan lupa dan tidak harus terlalu sering minum obat. Lebih menyenangkan, bukan? Namun, harap diingat antibiotik yang bisa diminum sekali sehari belum tersedia untuk semua penyakit infeksi kuman.

HARUSKAH DIHABISKAN?

Bila penggunaan antibiotik tersebut tepat sesuai indikasi, tak ada cara lain kecuali harus dihabiskan. Contohnya untuk infeksi saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh kuman. Kalau dokter meresepkan harus dikonsumsi selama 7 hari dan harus dihabiskan, maka selama 7 hari itu harus benar-benar dihabiskan, supaya tidak terjadi pemburukan pada penyakit tersebut.

Sedangkan antibiotik yang tidak tepat penggunaannya, misalnya untuk flu yang memang tidak membutuhkan antibiotik ya sebaiknya segera dihentikan. Makin cepat menghentikan konsumsi antibiotik yang tidak benar, tentu semakin baik.

JANGAN UBAH BENTUKNYA

Yang juga harus diingat adalah jangan mengubah bentuk antibiotik yang diresepkan dokter. Bila bentuknya tablet, maka obat itu harus dikonsumsi apa adanya. Seringkali karena kesulitan minum obat, maka sebelum diminum tablet itu digerus dulu. Atau kalau berupa kapsul dibuka dulu kemasannya. Ini jelas tidak benar. Pemakaian obat yang salah tidak akan menghasilkan efek maksimal lantaran obat tersebut tidak diserap tubuh secara optimal.
Contohnya, tidak semua tablet bisa digerus karena ada yang dilapisi dengan lapisan khusus agar tidak teroksidasi. Bila isi tablet tersebut terpapar sinar matahari atau zat lainnya, maka stabilitasnya jadi menurun. Bahkan obat yang digerus di apotek pun tidak sepenuhnya aman dari human error.

"Karena setelah digerus obat tersebut harus melalui beberapa proses lagi, seperti ditimbang dan sebagainya, sehingga rawan salah." Belum lagi ada beberapa antibiotik tertentu yang dilapisi enteric coated tablet. Pelapisan ini dimaksudkan supaya obat tidak pecah di lambung. Ingat lambung memiliki kondisi asam yang akan merusak antibiotik sebelum diserap oleh tubuh. Kalau obat tersebut dapat terjaga utuh sampai usus halus yang kondisinya sudah tidak asam lagi, maka obat tersebut terhindar dari kerusakan dini dan dapat diserap tubuh dengan baik. Itulah mengapa di beberapa negara maju, seperti Amerika dan Australia, sudah tidak ada lagi obat yang dikonsumsi dalam bentuk puyer. "Semua obat dikonsumsi apa adanya, sehingga lebih aman."

ANTIBIOTIK GENERIK VS PATEN

Belakangan marak dikampanyekan pemakaian obat generik, termasuk jenis antibiotik. Adakah perbedaan efektivitas antara antibiotik generik dengan yang paten? "Sama sekali tidak ada," tandas Rianto. Obat generik sama manjurnya dengan obat paten. Bahkan seringkali diproduksi di pabrik yang sama dengan proses yang sama pula. Bedanya yang satu diberi nama dagang dan menjadi obat paten yang harganya lebih mahal. Sedangkan yang tidak memakai nama dagang atau dikenal dengan istilah generik, harganya relatif
lebih murah. Namun harus diingat tidak semua obat memiliki versi generiknya. Kalau memang obat tersebut tidak ada generiknya, mau tidak mau pasien harus membeli obat dengan merek paten.

MINUMLAH OBAT SEPERLUNYA

Ada beberapa hal yang dianjurkan Rianto sehubungan dengan konsumsi antibiotik, berikut di antaranya;
- Orang tua sebaiknya "waspada" dengan mencari dokter yang bisa meresepkan obat secara baik dan benar.
- Bila diresepkan sederet obat dan banyak macamnya, sebaiknya langsung tanyakan. Dokter yang baik hanya akan meresepkan obat yang memang sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita pasien saja.
- Kalau demam, batuk, dan flu ringan, boleh saja menggunakan obat yang dijual di pasaran sebagai pertolongan pertama tapi jangan langsung engandalkan antibiotik.
- Jangan sembarangan menggunakan antibiotik, meski mungkin bisa dibeli sendiri di apotek.

Waspadai Bronkitis

Bagikan

Bila batuk pilek anak Anda kerap berulang, waspadai sebagai gejala
bronkitis. Jadi, jangan anggap sepele!



Padahal sering, kan, kita beranggapan wajar kalau si kecil sedikit-sedikit
batuk pilek; baru sembuh batuk pilek lagi, begitu seterusnya.
Ternyata-Bu-Pak, justru hal itu bisa merupakan gejala awal bronchitis, lo!
Jadi, sikap orang tua yang cenderung menyepelekan batuk pilek adalah kurang
bijak. Karena, tandas Dr.dr.H. Muljono Wirjodiardjo, SpA(K), bronchitis
harus diwaspadai secara serius.


Mari kita simak penuturan spesialis anak dari RS Pondok Indah, Jakarta
Selatan ini.


DUA PENGERTIAN


Bronkitis berasal dari bronchus (saluran napas) dan itis artinya
menunjukkan adanya suatu peradangan. "Bisa disimpulkan bronkitis merupakan
suatu gejala penyakit pernapasan."


Sebetulnya ada dua pengertian bronkitis. Pertama, berdasarkan
radiologi/ahli rontgen, bronkitis merupakan gambaran foto paru-paru dengan
kelainan pada saluran napas. Pada gambaran tersebut cirinya akan tampak
"sangat ramai" dan jelas. Berbeda bila dalam keadaan normal, gambaran
saluran napas tak begitu jelas terlihat karena berisi udara. "Tapi pada
kasus bronkitis akan muncul gambaran sebagian saluran napasnya tersumbat
lendir atau ada peradangan."


Kedua, menurut medis/dokter, bronkitis merupakan kelainan pada saluran
napas yang ditandai dengan adanya bunyi napas penuh lendir, seperti bunyi
'grok-grok', bisa terdengar di bagian dada maupun punggung. "Memang
terkadang gejala seperti ini muncul pula pada kelainan saluran napas yang
diakibatkan bukan hanya oleh bronkitis," ujar dokter yang berpraktek di
Klinik Inti Medik, Jakarta Selatan, ini.


ASMATIK BRONKITIS


Nah, untuk membedakan penyebab bronkitis harus ditelusuri dari riwayat
penyakit si penderita. Pencetus bronkitis di antaranya alergi pada saluran
napas dan infeksi virus atau kuman.


Alergi bisa disebabkan makanan, udara, debu, serbuk bunga, jamur yang
halus, dan sebagainya. Alergen ini merangsang dan menimbulkan peradangan
pada saluran napas; ditandai dengan produksi lendir yang banyak dan
penebalan dinding di saluran napas. "Bila ditambah lagi dengan penyempitan
saluran napas karena mengkerut, bukan karena sumbatan, maka menimbulkan
gejala seperti asma. Napasnya berbunyi seperti 'ngik-ngik'. Hal seperti ini
disebut asmatik bronkitis; bronkitis yang menyerupai asma."


Asmatik bronkitis kerap muncul pada balita dengan riwayat alergi. Gejalanya
terjadi batuk, bunyi 'grok-grok' terkadang sampai keluar muntah berlendir,
dan napas sesak. "Gejala yang muncul berhubungan dengan usia anak. Pada
bayi atau anak usia 1-3 tahun gejalanya sangat tampak jelas. Karena memang
saluran napasnya sangat sempit. Berbeda dengan usia anak yang lebih tinggi
lagi karena penampang saluran napasnya besar," kata Muljono.


Sedangkan, bronkitis akibat infeksi virus atau kuman bisa terjadi karena
anak ketularan flu, misalnya. Seorang anak dari ibu-bapak berbakat alergi,
pada usia 1 tahun terkena batuk cukup lama. Setelah diobati, sembuh
sebentar kemudian muncul lagi batuk; bunyi napasnya pun 'grok-grok' seperti
asma. Diagnosa dokter akan menunjukkan anak terkena asmatik bronkitis
akibat alergi.
Bisa juga saat diobati, infeksi virusnya hilang. Tapi, karena ia punya
bakat alergi maka ketika ia terkena flu lagi gejalanya makin berat,
misalnya, bunyi napasnya makin sering 'grok-grok'. Jadi, asmatik
bronkitisnya baru muncul belakangan setelah berkali-kali terkena flu.
Jadi, bronkitis pada anak merupakan asmatik bronkitis (wheegy bronchitis).
Berbeda dengan orang dewasa yang mengalami bronkitis kronik; kelainan pada
saluran napasnya khas dan menetap. Misal terdapat penebalan saluran napas,
mudah mengeluarkan lendir, peka terhadap rangsangan seperti mudah
batuk-batuk. "Menetap dalam arti selalu ada dan bahkan terjadi
penyempitan-penyempitan di beberapa saluran napas." Sementara pada anak
akan hilang seiring dengan bertambahnya usia, pada orang dewasa makin
bertambah usianya makin bertambah berat penyakitnya.

MENCEGAH BRONKITIS
Tentu saja bisa dilakukan asalkan menghindari alergen yang jadi
pencetusnya. Kendati alergi bisa diketahui lewat tes darah, tukas Muljono,
setidaknya orang tua bisa mengetahuinya dari pengalaman dengan
memperhatikan anak alergi terhadap apa. Nah, kalau sudah diketahui ia akan
kambuh alerginya saat berhubungan dengan alergen, ya, harus dihindari.
"Misalnya, debu rumah yang sering banyak menempel di karpet, selimut,
boneka berbulu disingkirkan, maka anak akan membaik. Begitu juga
makanan-makanan pencetus seperti minuman dingin, cokelat, dan makanan
gorengan," .
Pada sebagian anak bila mengkonsumsi makanan seperti telur ayam, bisa
menambah produksi lendirnya. Begitu juga minuman bersoda bisa jadi pencetus
karena saat diminum maka sodanya akan naik ke hidung dan merangsang daerah
saluran pernapasan.

OBAT DAN FISIOTERAPI

Nah, bila sudah terjadi gejala bronkitis, dokter akan menanganinya dengan
pemberian berbagai obat; obat penghancur lendir (karena banyak lendir yang
kental), obat penekan reaksi alergi (bila penyebabnya alergi), obat
antibiotik (bila penyebabnya infeksi kuman/virus), obat penenang agar tak
batuk terus menerus, obat yang memperbaiki gerakan-gerakan selaput lendir
agar lendir mudah keluar ke atas.
Karena itu, dokter seringkali memberikan obat racikan atau puyer agar lebih
efektif dan tak terlalu banyak jenis obat yang harus dikonsumsi. Jadi obat
yang diberikan akan disesuaikan dengan penyebabnya dan dilihat
kebutuhannya. "Tapi, umumnya dalam pemberian obat mengandung tiga fungsi;
mencairkan lendir, menekan reaksi alergi dan obat batuk."


Bila anak sulit mengeluarkan lendir maka harus dibantu fisioterapi. Terapi
inhalasi atau dengan obat yang diuapkan dan diisap berfungsi sama
mengencerkan lendir dan juga melebarkan jalan napas. "Fisioterapi biasanya
lebih efektif karena menuju sasaran langsung. Tak seperti obat minum yang
harus melewati organ-organ, samisal jantung, liver, ginjal dan baru ke
saluran napas." Karena sifatnya langsung ke sasaran, efek samping terapi
inhalasi lebih kecil dibandingkan obat minum.


Selain dengan inhalasi, fisioterapi dilakukan dengan cara memanaskan dada
dengan infra merah supaya jalan darah di dadanya lancar. Dada dan punggung
juga ditepuk-tepuk dengan tangan atau alat untuk membantu lendirnya keluar
ke atas.
Ingat, lo, fisioterapi dilakukan atas anjuran dokter. "Karena dikhawatirkan
bila ada infeksi paru-paru atau radang maka pemanasan dengan infra merah
malah bisa membahayakan."
Yang pasti bronkitis yang tak diobati sangat tergantung pada daya tahan si
penderita. Sebab bronkitis mengakibatkan penumpukan atau penyumbatan lendir
di saluran napas. Sifat lendir ini lengket dan seringkali jadi media yang
sangat bagus untuk berkembang biak kuman. "Jika kebetulan anak mengisap
udara yang ada kumannya maka kuman tersebut bisa cepat berkembang biak di
saluran napas. Bila terjadi demikian maka dapat menimbulkan radang
paru-paru atau bronchopneumonia. Batuk makin menghebat dan cepat, napaspun
cepat seperti sesak."


Selain bisa mengakibatkan bronchopneumonia, kalau sesak napas tak
ditangani, maka bisa berakibat ke jantung (payah jantung). Karena bila
sesak napas terus maka akan kekurangan oksigen, sehingga memacu jantung
memompa darah lebih kuat. Hal ini bisa mengakibatkan gagal jantung yang
sifatnya akut. Gejalanya muka sembab, kakinya bengkak dan parahnya lagi
anak bisa tiba-tiba tak sadarkan diri dan napasnya berhenti. "Jadi bila tak
ditangani, bronkitis dari tingkat ringan sampai menjadi berat bisa
menimbulkan kematian."
Tingkat keparahannya sangat tergantung pada daya tahan si anak dan faktor
usia. Tapi, Bu-Pak, bronkitis bisa sembuh secara total, kok. Asalkan bukan
yang berdasarkan alergi. Kalau yang berdasarkan alergi hanya diatasi dengan
cara menjauhi faktor alergennya.

Dadali Band Masuk Muri

Meski terbilang baru di belantika musik Tanah Air, Dadali Band langsung mendapat respon positif dari para penikmat musik. Belum genap enam bulan, viewer Youtube band asal Bogor ini sudah mencapai lebih dari dua juta.

Berkat prestasi tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencanangkan gelar band "Terbanyak Diunggah di Youtube" kepada band bergenre pop alternatif ini.

"Band ini baru enam bulan terdengar lagunya dan muncul video klipnya langsung dua juta lebih yang melihatnya. Band ini membawa prestasi yang menggembirakan dan bisa sebagai acuan," ujar Jaya Suprana, Ketua MURI kepada VIVAnews.com saat ditemui di MOI Kelapa Gading, Jakarta.

Namun, pemberian dari MURI ini tidak membuat besar kepala para personel Dadali Band. Sebab, bagi mereka penghargaan MURI adalah cobaan. "Kami tidak menyangka sebanyak itu yang klik di Youtube, ini adalah cobaan positif, penghargaan MURI ini sebagai bentuk amanah untuk kami bisa berkarya ke depannya," ujar Dyrga, vokalis Band Dadali.

Band yang digawangi Dyrga (vokal), Fadel (bass), Rickarjd (gitar), Yuda (gitar), Oq (drum), dan Rix (keyboard) ini mengaku ingin mengikuti sukses Wali Band, band yang lebih dulu sukses di label yang sama di Nagaswara. "Kenapa tidak kalau kita mencoba ingin lebih sukses dari Wali, kita masing-masing punya pasar, jadi percaya diri saja," kata Dyrga
Sumber : www.vivanews.com

Video Syur Heidi Montag akan dijual suami

Selain mengancam akan membeberkan kisah kehidupan pernikahannya dengan Heidi Montag, Spencer Pratt juga mengancam akan mempublikasikan video seks mereka.

Menurut situs selebriti TMZ, suami Montag, Spencer menyimpan begitu banyak video syur mereka berdua, dengan penampilan Heidi sebelum dan sesudah menjalani sepuluh kali operasi plastik.

Seperti dikutip dari Hollyscoop, Spencer mengancam Heidi dengan memberikan ultimatum yang sangat jelas. Bila Heidi menolak melakukan reality show seperti sebelumnya, Spencer akan merilis video seks yang disebutnya sangat luar biasa itu.

Saat ini pasangan yang sedang terlibat kisruh perceraian ini dikabarkan sedang berada di hotel yang sama di Kosta Rika, diduga menginap di dua kamar terpisah, untuk mendiskusikan sejumlah video tersebut.

Menurut Spencer, Heidi ketakutan mendengar ancaman Spencer. "Dia takut sekali karena dia sebenarnya tidak mau menjalani syuting reality show lagi," kata Spencer. Dia kembali menegaskan akan merilis video tersebut bila Heidi menolak permintaannya.

Berbagai rumor berkembang menyusul ancaman Spencer. Mereka diduga berkolaborasi untuk menipu. Pasangan ini sebenarnya masih menjalin hubungan meski Heidi sudah mengajukan permohonan cerai pada Juli lalu.

Rencana untuk mempubilkasikan video ini disengaja untuk menampilkan Spencer yang memerankan tokoh jahat dan Heidi akan menjadi korban yang malu atas dirilisnya video syur itu
umber www.vivanews.com

Pedrosa menyodok ke posisi pertama pada tes hari kedua di Sepan

Dani Pedrosa berharap motor RC212V yang dikendarainya bisa konsisten dan semakin berkembang di hari ketiga tes resmi di Sirkuit Sepang, Kamis 3 Februari 2011 ini.

Pedrosa menyodok ke posisi pertama pada tes hari kedua di Sepang, Rabu kemarin. Rider asal Spanyol ini lebih cepat sekitar setengah detik dari rekan setimnya, Casey Stoner, yang tercepat di hari pertama.

Pedrosa mengaku belum pernah secepat ini selama berlaga di Sepang, namun ia berharap performa motor RC212V tunggangannya bisa konsisten.

"Saya pikir ini adalah kali pertama saya begitu cepat di trek ini, dan saya melakukan empat putaran pertama dengan sangat baik. Bukan catatan waktu yang saya cari," ujar Pedrosa seperti dilansir Autosport, Rabu 2 Februari 2011.

"Hari ini saya mencoba mesin baru, yang telah meningkat dari Valencia, dengan beberapa konfigurasi chassis dan shock belakang. Rencana untuk besok (tes hari ketiga) adalah terus membandingkan motor dan itu bagus untuk mesin."

Dalam tes kemarin, posisi ketiga ditempati rider Yamaha Ben Spies. Sedangkan Andrea Dovizioso melengkapi Honda di posisi empat besar.

Sementara juara dunia Jorge Lorenzo menjadi tercepat ketujuh setelah lebih banyak menghabiskan hari kedua dengan mengevaluasi chassis baru untuk Yamaha.


Posisi Rider Waktu Jarak
1. Dani Pedrosa Honda 2m00.770s
2. Casey Stoner Honda 2m01.434s + 0.664s
3. Ben Spies Yamaha 2m01.508s + 0.738s
4. Andrea Dovizioso Honda 2m01.512s + 0.742s
5. Marco Simoncelli Gresini Honda 2m01.522s + 0.752s
6. Hiroshi Aoyama Gresini Honda 2m01.534s + 0.764s
7. Jorge Lorenzo Yamaha 2m01.563s + 0.793s
8. Alvaro Bautista Suzuki 2m01.687s + 0.917s
9. Colin Edwards Tech 3 Yamaha 2m01.722s + 0.952s
10. Hector Barbera Aspar Ducati 2m02.093s + 1.323s
11. Nicky Hayden Ducati 2m02.379s + 1.609s
12. Randy de Puniet Pramac Ducati 2m02.426s + 1.656s
13. Valentino Rossi Ducati 2m02.597s + 1.827s
14. Kousuke Akiyoshi Honda Test 2m02.619s + 1.849s
15. Cal Crutchlow Tech 3 Yamaha 2m03.032s + 2.262s
16. Loris Capirossi Pramac Ducati 2m03.047s + 2.277s
17. Karel Abraham Cardion Ducati 2m03.466s + 2.696s
18. Toni Elias LCR Honda 2m04.026s + 3.256s

sumber : www.vivanews,com

Rabu, 02 Februari 2011

Cara Membuat Tulisan terkait pada blogger

Untuk membuat tulisan Related post / tulisan terkait, pertamakali login ke blogger, "edit html" lalu centang expand widget terus cari kode <data:post.body/>
lalu kopikan kode  dibawah ini
<b:if cond='data:blog.pageType == &quot;item&quot;'>
            <div class='similiar'>
          

                <div class='widget-content'>
                <h3>Baca Juga</h3>
                <div id='data2007'/><br/><br/>
                                    <script type='text/javascript'>

                    var homeUrl3 = &quot;<data:blog.homepageUrl/>&quot;;
                    var maxNumberOfPostsPerLabel = 4;
                    var maxNumberOfLabels = 10;

                    maxNumberOfPostsPerLabel = 100;
                    maxNumberOfLabels = 3;


                    function listEntries10(json) {
                      var ul = document.createElement(&#39;ul&#39;);
                      var maxPosts = (json.feed.entry.length &lt;= maxNumberOfPostsPerLabel) ?
                                     json.feed.entry.length : maxNumberOfPostsPerLabel;
                      for (var i = 0; i &lt; maxPosts; i++) {
                        var entry = json.feed.entry[i];
                        var alturl;

                        for (var k = 0; k &lt; entry.link.length; k++) {
                          if (entry.link[k].rel == &#39;alternate&#39;) {
                            alturl = entry.link[k].href;
                            break;
                          }
                        }
                        var li = document.createElement(&#39;li&#39;);
                        var a = document.createElement(&#39;a&#39;);
                        a.href = alturl;

                        if(a.href!=location.href) {
                            var txt = document.createTextNode(entry.title.$t);  
                            a.appendChild(txt);
                            li.appendChild(a);
                            ul.appendChild(li);  
                        }
                      }
                      for (var l = 0; l &lt; json.feed.link.length; l++) {
                        if (json.feed.link[l].rel == &#39;alternate&#39;) {
                          var raw = json.feed.link[l].href;
                          var label = raw.substr(homeUrl3.length+13);
                          var k;
                          for (k=0; k&lt;20; k++) label = label.replace(&quot;%20&quot;, &quot; &quot;);
                          var txt = document.createTextNode(label);
                          var h = document.createElement(&#39;b&#39;);
                          h.appendChild(txt);
                          var div1 = document.createElement(&#39;div&#39;);
                           div1.appendChild(h);
                          div1.appendChild(ul);
                          document.getElementById(&#39;data2007&#39;).appendChild(div1);
                        }
                      }
                    }
                    function search10(query, label) {

                    var script = document.createElement(&#39;script&#39;);
                    script.setAttribute(&#39;src&#39;, query + &#39;feeds/posts/default/-/&#39;
                     + label +
                    &#39;?alt=json-in-script&amp;callback=listEntries10&#39;);
                    script.setAttribute(&#39;type&#39;, &#39;text/javascript&#39;);
                    document.documentElement.firstChild.appendChild(script);
                    }

                    var labelArray = new Array();
                    var numLabel = 0;

                    <b:loop values='data:posts' var='post'>
                      <b:loop values='data:post.labels' var='label'>
                        textLabel = &quot;<data:label.name/>&quot;;
                      
                        var test = 0;
                        for (var i = 0; i &lt; labelArray.length; i++)
                        if (labelArray[i] == textLabel) test = 1;
                        if (test == 0) {
                           labelArray.push(textLabel);
                           var maxLabels = (labelArray.length &lt;= maxNumberOfLabels) ?
                                  labelArray.length : maxNumberOfLabels;
                           if (numLabel &lt; maxLabels) {
                              search10(homeUrl3, textLabel);
                              numLabel++;
                           }
                        }
                      </b:loop>
                    </b:loop>
                    </script>
                </div>

            </div>
        </b:if>
 tepat sesudah kode tadi  simpan template... dan selesai.