Jumat, 29 Januari 2016

Belajar dari secangkir kopi

Pelajaran dari Secangkir Kopi Alkisah, sebuah liburan panjang diisi oleh sekumpulan sahabat untuk melakukan reuni. Sudah dua puluh tahun lebih mereka berpisah dan baru tahun itu mereka bisa berkumpul. Untuk itu, mereka sepakat untuk menemui gurunya ketika bersekolah dulu. Mereka hendak berterima kasih, bahwa dengan ajaran dari sang guru, mereka kini telah sukses dengan bidangnya masing-masing. Maka, di sebuah sore yang hangat, mereka pun datang bersama-sama mengunjungi sang guru. Mereka saling bercanda, mengenang masa kenakalan ketika remaja. Kemudian satu sama lain mulai berkisah tentang perjuangan hidup yang mereka lalui. Ada yang sudah jadi bos besar di perusahaan multinasional. Ada pula yang menjadi pengusaha sukses di bidang transportasi. Ada pula yang mengaku sudah melanglang buana ke hampir semua benua untuk memenuhi impiannya. Melihat percakapan seputar kesuksesan yang sudah hampir melampaui batas, sang guru pun meminta izin untuk ke belakang rumah. Rupanya, ia mengambil beberapa cangkir kopi dan satu teko berisi kopi panas yang siap diseduh. Uniknya, cangkir yang diberikan terdiri dari beragam bentuk dan terdiri pula dari beragam bahan. Ada yang dari keramik, kristal, kaca, melamin, dan ada pula yang hanya terbuat dari plastik biasa. “Sudah, sudah.. Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,” sebut sang guru memecah keasyikan obrolan mereka. Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek. Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya. “Mari, silakan diminum,” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek. “Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.” “Wah, enak sekali Pak.. Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain. “Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru. Murid-murid itu pun saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya, apa maksud gurunya bertanya seperti itu. Maka sang guru pun kembali meneruskan ucapannya. “Tak salah memang untuk memilih apa saja yang terbaik. Malahan, itu sangat manusiawi. Tapi masalahnya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Akibatnya, pikiran kalian terfokus pada cangkir. Padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkir, melainkan kopinya. Dan, kalian sendiri mengaku bahwa kopi ini adalah kopi terenak. Jadi, tolong pikirkan baik-baik. Hidup kita seperti kopi dalam cangkir tersebut. Sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kalian miliki.” Sang guru pun kembali meneruskan wejangannya. “Karena itu, jangan pernah biarkan cangkir memengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, sebab kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus, dan pekerjaan mapan yang kalian banggakan tadi merupakan jaminan kebahagiaan. Namun sejatinya, kualitas hidup kita ditentukan oleh ‘apa yang ada di dalam’ bukan ‘apa yang kelihatan dari luar’. Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan rasa bahagia dalam kehidupan kita? Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Jadi, kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.” Semua murid itu pun tertunduk malu. Mereka merasakan inilah reuni yang membuat mereka kembali “membumi”. Mereka pun berjanji, akan menjadikan pembelajaran cangkir kopi tersebut untuk menjadikan sukses yang diraih memberi kemanfaatkan kepada lebih banyak orang, dan bukannya menjebak mereka dalam kesombongan. Sahabat Luar Biasa..., Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, keterkenalan, adalah sebuah predikat yang disandang. Tak salah jika kita mengejarnya. Tak salah pula bila kita ingin memilikinya. Namun, semua itu tak akan kita miliki selamanya. Semua hanya akan langgeng jika kita sebagai subjek—alias pemilik sejati kekayaan yang sebenarnya—memiliki kualitas dalam diri yang bersih, bernilai, bermartabat, dan penuh kebersahajaan . Ibarat pepatah, manusia mati meninggalkan nama, maka nama seperti apa yang akan dikenang orang, itulah cerminan sejati apa yang sudah kita berikan pada sekeliling kita selama ini. “Nama” itulah “isi kopi” sesungguhnya yang harus kita jaga, rawat, dan sekaligus kita bagi untuk mendatangkan kemanfaatan pada lebih banyak orang. Mari, kita jadikan “isi” dalam diri kita sebagai cerminan positif yang bisa selalu kita hadirkan untuk mendatangkan keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan sejati. Salam sukses, luar biasa!!

Rabu, 27 Januari 2016

Grab Taxi berubah jadi grab

Pengguna GrabTaxi yang kami hormati, Terima kasih telah setia memilih menggunakan layanan kami selama beberapa tahun terakhir ini. Sebagai pendiri dan CEO dari perusahaan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kepercayaan yang telah anda berikan. Hari ini, GrabTaxi akan memulai sebuah perjalanan baru. Mulai hari ini, kami akan dikenal sebagai “Grab”. Banyak dari anda semua adalah pelopor dari pengguna aplikasi kami, anda telah percaya dengan menggunakan layanan kami di saat banyak pula orang lain yang meragukan kami. anda terus membantu kami untuk berkembang menjadi aplikasi layanan transportasi start-up terbesar di Asia Tenggara. Namun masih ada banyak hal yang kami masih terus perlu pelajari oleh para pengguna kami. Loyalitas tinggi yang Anda berikan telah memotivasi kami untuk berusaha meningkatkan pelayanan agar lebih baik setiap harinya. Kami tidak akan diam, justru kami baru saja memulai.   Melihat kembali perjalanan kami ketika pertama mulai, kami hanya memiliki kantor yang sangat kecil dimana seluruh tim duduk dalam satu meja. Bahkan untuk koneksi internet, kami mengandalkan koneksi internet dari handphone yang kami miliki pada saat itu. Itulah yang terjadi pada tahun 2012, dan alasan kami untuk melakukan nya adalah karena kami ingin membantu orang banyak dengan meningkatkan layanan taksi.   Pada saat itu juga, kami sadar bahwa kami bisa membuat dampak yang lebih besar. Kami mampu membuat perjalanan para penumpang menjadi lebih baik, bukan hanya di kota tempat kami berdiri tapi di seluruh Asia Tenggara.   Kami pun menambah jasa transportasi baru di seluruh wilayah, baik dengan mobil ataupun sepeda motor, juga jasa pengiriman dan masih banyak lagi. Ide sederhana kami pun tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.   Karena itu, kami pun semakin yakin untuk dapat memastikan bahwa semua kalangan bisa dengan mudah mengakses kami, dimana saja dan kapan saja agar tak ada yang terlewatkan. Beserta dengan tim Grab, kami pun terus akan meningkatkan keamanan serta kenyamanan layanan yang kami miliki.   Untuk itu, mari kita berkembang bersama melanjutkan apa yang sudah kita jalani bersama ini. Kami bertekad kuat untuk membuat semua hal yang sudah kita jalani ini menjadi lebih baik dan tentunya semua ini karena dukungan anda.   Kami yakin anda akan menyukai Grab. Selamat datang di Grab yang baru! Rekan Grabber-mu, ANTHONY TAN, CEO of Grab support.id@grab.co   |  +622157901246 GrabTaxi (Indonesia) Pte. Ltd. I do not want to receive emails like this. Stay connected with us.