Jumat, 27 November 2015

Liturgi Natal, prolog Natal,

01. Panggilan ibadah
L: Hari ini kita merayakan keselamatan kita. Keselamatan itu berlangsung dalam peristiwa yang sangat biasa. Seperti malam ini, kita mengingat Yusuf dan Maria, yang tidak memperoleh tempat penginapan di Bethlehem. Tetapi dalam keadaan seperti itulah Jurus'lamat datang. Demikianlah peristiwa keselamatan berawal dari kesederhanaan, kesunyian dan ketenangan. Marilah kita memasuki peribadahan dengan hati yang tertuju kepada sang pemberi keselamatan dan hidup, Tuhan Yesus Kristus.!
J; Bernyanyi KJ. No. 123: "S'lamat-s'lamat Datang"
S'lamat, s'lamat datang, Yesus, Tuhanku!
Jauh dari sorga tinggi kunjunganMu.
S'lamat datang, Tuhanku, ke dalam dunia;
Damai yang Kaubawa tiada taranya, Salam, salam
Nyanyian malaikat nyaring bergema; Gembala mendengarnya di Efrata: "Kristus sudah lahir, hai percaya kabarku!
Dalam kandang domba kau dapat bertemu." Salam, salam!

02. Votum-introitus-doA
P: Dalam Nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi, amin! Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

J: Kemuliaan bagi Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, slalu dan sampai selama-lamanya.

P: Marilah kita berdoa: Engkau memberikan AnakMu kepada kami untuk menyelamatkan kami dari dosa. Engkau membimbing kami dari kegelapan menuju terangMu, penuhi dan terangilah hati kami dengan RohMu, supaya kami semakin membenci dosa dan mulai merindukan firmanMu yang kudus. Berikanlah RohMu membimbing kami supaya kami bertambah baik dan menjadi teladan sesuai dengan Perintah Tuhan Yesus. Amin!
03. Bernyanyi No: 101:1 "Alam Raya Berkumandang"
Alam raya berkumandang oleh pujian mulia;
Dari gunung, dari padang kidung malaikat bergema.
Glo…..ria in excelsis Deo! Glo…..ria in excelsis Deo!

04. Pembacaan alkitab (epistel) mika 5:1-4
P: Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.
J: Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.
P: Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,
J: Dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.
P: Demikianlah firman Tuhan, "Berbahagialah orang yang mendengar Firman Tuhan serta memilihara dala hatinya" Amen!

05. Bernyanyi kj. No: 64:1-2 "Bila Ku Lihat Bintang Gemerlapan"
· Bila ku lihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh ku dengar,
Ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwa ku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau Allahku!"
Maka jiwa ku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau Allahku!"
· Ya Tuhanku, 'pabila kurenungkan, pemberianMu dalam penebus,
'ku tertegun: bagiMu di curahkan oleh putraMu darahNya kudus.
Maka jiwa ku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau Allahku!"
Maka jiwa ku pun memujiMu: "Sungguh besar Kau Allahku!"


06. Liturgi I "penciptaan"
Prolog: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur.

Kejadian 1: 1-2
Kejadian 1: 9-10
Kejadian 1 : 3-4
Kejadian 2 : 7
Kejadian 1 : 5-6
Mazmur 8 : 4
Kejadian 1: 7-8


07. Bernyanyi KJ. No. 120 : 1 " Hai Siarkan Di Gunung"
Hai, siarkan di gunung di bukit dan di mana jua,
hai, siarkan di gunung lahirnya Almasih!
Di waktu kaum gembala menjaga dombanya,
Terpancar dari langit cahaya mulia.
Hai, siarkan di gunung di bukit dan di mana jua,
hai, siarkan di gunung lahirnya Almasih!

08. Liturgi II
Prolog: Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan Hukum Taurat, karena justru oleh Hukum Taurat orang mengenal dosa.

Kejadian 6 : 5
Mazmur 51 : 3-4
Kejadian 6 : 6
Mazmur 51 :4-5
Kejadian 6 : 7
Mazmur 51 :5-6
Kejadian 7 : 18-19
Roma 3 : 11-12

09. Bernyanyi KJ. No. 109 : 2+ 7 " Hai Mari Berhimpun"
§ Terang yang ilahi, Allah yang sejati, t'lah turun menjadi manusia.
Allah sendiri dalam rupa insan! Sembah dan puji Dia, Tuhanmu!
§ Hai para malaikat, angkatlah suaramu, biduan sorgawi, bernyanyilah!
Muliakan Allah, Bapa dalam sorga! Sembah dan puji Dia, Tuhanmu!
10. Liturgi III (Menerima Firman/Hukum Tuhan)
Prolog: Karena semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, oleh karena itu Allah telah memberikan Firmannya kepada semua orang, agar tetap berjalan menurut firmannya. Dan Allah telah memberikan kasih karunianya, supaya semua orang selamat.

Keluaran 20: 1
Mazmur 62 : 12-13
Keluaran 20: 2
Mazmur 103 : 8-9
Keluaran 20: 3
Mazmur 103 : 10-11
Keluaran 20: 4
Mazmur 103 : 12-13

11. Bernyanyi : KJ 110 : 1 "Di Betlehem T'lah Lahir Seorang Putera"
Di Betlehem t'lah lahir seorang Putera. Semoga 'ku menjadi abadi milikNya, Sungguh, sungguh, abadi milikNya.

12. Liturgi IV (Nubuat Kelahiran Tuhan Yesus)
Prolog:
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Yesaya 11 : 1-2
Roma 1 : 3
Matius 2 : 23
Yesaya 7 : 14
Mazmur 2 : 7
Matius 1 : 22-23
Matius 3 : 16-17
Zakaria 9 : 9

13. Bernyanyi kj. NO. 119 :1-2 " HAI DUNIA GEMBIRALAH"
Hai dunia, gembiralah dan sambut Rajamu! Di hatimu terimalah!/ Bersama bersyukur bersama bersyukur / bersama-sama bersyukur!
Hai, dunia, elukanlah Rajamu, Penebus!/ Hai bumi, laut/ gunung, lembah/ bersoraklah terus, bersoraklah terus, bersorak-soraklah terus!

14. Liturgi v (Kelahiran Tuhan Yesus)
Prolog :
Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.

Lukas 2 : 10-11
Matius 1 : 21
Lukas 2 : 12-13
Matius 1 : 22-23
Lukas 2 : 14-15
Matius 2 : 1
Lukas 2 : 16-17
Matius 2 : 11

15. Bernyanyi : KJ 118 : 1-2 " Sunguh Mulia"
Sungguh mulia, berkarunia Hari Natal yang kudus.
Duka berakhir; Kristus t'lah lahir. Mari bernyanyi dengan merdu!
Sungguh mulia, berkarunia Hari Natal yang kudus.
Damai ilahi nyata kembali. Mari bernyanyi dengan merdu!

16. Liturgi (Kasih Karunia Allah)
Prolog: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah

Lukas 2 : 10-11
Matius 1 : 21
Lukas 2 : 12-13
Matius 1 : 22-23
Lukas 2 : 14-15
Matius 2 : 1
Lukas 2 : 16-17
Matius 2 : 11

17. Bernyanyi KJ. No. 92 1-3 "Malam kudus" (Sambil menyalakan lilin)*
*Penyalaan lilin:
1.Pengkotbah
2.Ketua panitia natal
3.Mewakili Guru
4.Mewakili anak didik
5.Mewakili orangtua
· Malam kudus, sunyi senyap; dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus ayah bunda mesra dan kudus;
Anak tidur tenang, Anak tidur tenang.
· Malam kudus, sunyi senyap. Kabar Baik menggegap;
bala sorga menyanyikannya, kaum gembala menyaksikannya:
"Lahir Raja Syalom, lahir Raja Syalom!"
· Malam kudus, sunyi senyap. Kurnia dan berkat
tercermin bagi kami terus di wajahMu, ya Anak kudus,
cinta kasih kekal, cinta kasih kekal.

18. Renungan natal
19. Bernyanyi KJ. No. 99: 1-3 "GITA SORGA BERGEMA" (Sambil mengumpulkan persembahan)

§ Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!
Damai dan sejahtera turun dalam dunia."
Bangsa-bangsa, bangkitlah dan bersoraklah serta,
Permaklumkan Kabar Baik; Lahir Kristus, T'rang ajaib!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"
§ Yang di sorga disembah Kristus, Raja yang baka,
lahir dalam dunia dan Maria bundaNya.
Dalam daging dikenal Firman Allah yang kekal;
dalam Anak yang kecil nyatalah Imanuel!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"
§ Raja Damai yang besar, Surya Hidup yang benar,
menyembuhkan dunia di naungan sayapNya,
tak memandang diriNya, bahkan maut dit'rimaNya,
lahir untuk memberi hidup baru abadi!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"

20. Pengutusan
P: Ya Allah sumber segala Kasih Karunia! Lihatlah kami umatMu dengan segala keberdosaan kami. Kami mengaku dan sadar bahwa jika kami berjalan sendiri maka kami tidak akan mampu, tapi kami bersyukur kepadaMu ya Tuhan karena Engkau membimbing kami dan masih berkenan kepada kami.
J: Segala hormat, puji dan kemuliaan hanya bagi Allah sang Raja!
P: Sekarang kami yakin, karena Tuhan telah hadir dalam hidup kami maka kami akan mendapatkan berkatMu. Berkatilah setiap anak-anakMu yang berada ditempat ini. Bimbinglah mereka menurut kehendakMu, sehingga mereka tahu aturan yang benar seperti yang Engkau berikan kepada kami.
J: Segala hormat, puji dan kemuliaan hanya bagi Allah sang Raja!
P: Terimalah kami Ya Tuhan Allah kami dalam KerajaanMu sehingga kami dapat tinggal bersama-sama dengan Engkau dalam kehidupan dunia yang kekal sebagaimana yang telah Engkau janjikan bagi kami. Amin!

Jumat, 13 November 2015

Biarkan mengalir Seperti Air


BIARKAN MENGALIR SEPERTI AIR.........

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.
Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."

Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit.
Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir.  Itu sebabnya kita  jatuh sakit.  Kita mengundang penyakit.
Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Usaha, pasti  ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup  ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah  betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu  santai! Tinggal  1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum  tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu."  Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin  meninggalkan
kenangan manis!

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih   tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali,  "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah.  Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap  pendapat-pendapat  yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi  sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung  mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air  biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian,  apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.  Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan  bosan. Kau akan merasa  hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah  sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

Have a positive day!

  “ANDA lah yang menCIPTAkan REALITA Anda Sendiri "


AM-150814-150815